MORFOLOGI HEWAN MAMALIA DAN AVES
AVES
MORFOLOGI HEWAN MAMALIA DAN AVES
AVES
BAB 2. SERVEKU
"Lihat saja, aku tidak akan kalah !"
Begitulah apa yang ada dibenak Dea kala itu. Meski dengan semangat yang menggebu-gebu. Namun kenyataan tak seperti keinginan yang dia harapkan.
Dea: "Apaaaa....." "Kenapa?..... Kenapa serveku sangat buruk ?" Ungkap Dea dikarenakan Servenya sedikit lemah.
TOMAZ : "Siapp....Coba satu kali lagi ya. Kali ini kau harus bisa melewati net tersebut."
Dea: "Ba-baik."
Duhai diriku tenanglah. Kenapa dengan aku ini. Kenapa serveku lemah sekali. Apa aku tadi kurang pemanasan ya?"
Aduhhh, bagaimana ini. Bagaimana bila aku masih belum bisa memasukan bola melewati net. Dengan dua serve buruk di awal tadi. Maka, ini adalah serve terakhirku.
Tidak....
Tidak... !!!! Pokoknya, kali ini harus masuk. Aku tidak mau diremehkan oleh dia. Yang jelas-jelas seangkatan denganku! sebari melirik lary yang sedang mengamati di pinggir lapangan.
TOMAZ: "Dea,... Kau siapp?"
DEA: "Yah, aku siap kak Tomaz."
Priwittt,..
DEA: "Baiklah, ini adalah pukulan serve terakhirku".
Tuhan..... Bantu aku, berikan kekuatan pada serve terakhirku ini. Dea pun mulai berkonsentrasi dan mengerahkan tenaganya pada satu titik.
"Hiyaaaaaaah"
"Kumohon,.... Masuklah..."
ππππ
Bughh.....suara dentuman keras menuju sisi luar net. Bola tersebut melewati net hingga luar lapangan.
DEA: "Iyeeeehhh,... Bolanya melewati net."
Dea pun kegirangan karena bolanya melewati net. Namun kegembiraannya hanya sampai disitu.
LARY: "Kapten." Melihat kerah bola.
DEA: "Kak Tomaz, lihat. Akhirnya aku berhasil. Aku memasukkan bola melewati net." Ungkap Dea yang kegirangan karena bolanya melalui net.
LARY: "Ahh iya kau berhasil, tapi..."
DEA: "Tapi apa Lary ?" tanya Dea.
LARY : "Lihat ... " sembari menunjuk ke arah bola. "Sayangnya, bolanya keluar lapangan. Itu artinya Out bukan." Pungkas Lary.
Seketika kegirangan Dea itu pun musnah seketika.
DEA: "Apaaa? .... Aku lupa... Kalo bolanya melewati garis itu Out. Siallll....." Terduduk dilantai seketika dan menghela nafas dikarenakan shock.
LARY: "Jadi,... Kau Sekarang mengerti kan. Hidup itu tidak semudah apa yang kau pikirkan." dengan senyum tipis sembari menggelengkan kepalanya Lary pun memungut bola di luar lapangan.
Sang kapten menghampiri Dea dan berkata bahwa berdasarkan hasil tes yang telah Dea lakukan. Tim bola volley mereka tidak bisa menerima Dea kedalam member. Ditambah lagi dengan tim volley akademi star yang sejak awal tidak ada anggota wanitanya. Meskipun ada, biasanya anggota wanita selalu menjadi manager tim.
Mendengar ulasan dari kapten tim bola volley tersebut, Dea hanya bisa pasrah menerima keputusan itu. Mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya untuk menjadi member tim. Namun sang kapten menawarkan pilihan yang lain kepada Dea. Dia diminta untuk menjadi manager tim di angkatannya.
TOMAZ: "Jadi, bagaimana... Apakah kau bersedia menjadi manager tim kami untuk angkatan anak kelas satu? Emm,...siapa tadi namamu yah... Ahh..Dea kan? Bagaimana.. kau bersedia?" Tanya Tomaz kapten voly Star Akademi.
Mendengar ajakan sang kapten Dea pun diam-diam berpikir keras saat itu juga.
Emm... Bagaimana ini?... Aku terima tidak yah. Aku kan maunya jadi member pemain, bukan member manager! Mana bisa aku bersinar nantinya.
Ditambah lagi, aku harus mengurusi keperluan tim juga... Berarti aku harus berurusan dengan si kampret lary. Ogah banget harus ngurusin dia!.
Tapi,... Sang kaptennya baik banget. Aku gak tega bilang enggak. Apalagi, disini banyak juga cowok kerennya... Paling enggak bisa cuci mata gitu deh...
Hemm...bingung juga jadinya..
Ditengah lamunanya itu, sang kapten bertanya sekali lagi pada Dea. Sontak Dea terkaget dan refleks menjawab iya pada pertanyaan kapten saat itu.
TOMAZ: "Jadi bagaimana, Kau mau?"
DEA: "I..iya.. Ehh"
TOMAZ: "Bagus kalo begitu. Jadi mulai saat ini, kamu adalah member di tim bola volley kami. Mohon bantuannya ya Dea." Mengulurkan tangannya untuk berjabar tangan menyambut bergabungnya Dea di Team Voly Stars.
DEA: "Ba..baik kapten." jawab Dea dengan gelagat salting saat berjabat tangan dengan sang kapten.
πππππππππππππ
Hari sudah semangkin larut. Sebagai manager baru di tim Dea pun mendapat pengarahan dari sang kapten perihal tugas seorang manager tim volley.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 para member pun menyudahi latihan mereka dan bersiap-siap untuk pulang.
πΈπΈπΈ
Diasrama Putri,
Dea membuka kunci kamarnya dan langsung terbaring di kasur.
Ahh...lelahnya... Untuk saat ini... Aku butuh tidur dulu sepertinya, tanpa dia sadari dia tertidur lelap dengan stelan olahraga.
Saat Dea terlelap tidur kala itu, dia bermimpi akan kenangan masa lalunya. Dia berlari mengelilingi lapangan dalam sebuah kompetensi atlet lari. Lalu..seketika dia juga melihat kendaraan yang melintas tepat menuju ke arahnya. Dia pun berteriak dalam mimpi sampai terbangun di dunia nyata.
Tidakkk.....,
Dia terbangun seketika. Nafas yang terengah-engah seakan sudah berlari seharian. Begitu pula dengan keringat yang bercucuran membasahi kening hingga badannya.
"Huh...uhh... aku bermimpi kah?"
Dea terduduk di ranjang dengan melihat ke setiap sudut kamar. Barulah dia tersadar bahwa teman sekamarnya masih belum ada di sana. Dia pun melihat kearah jam Walker miliknya yang menunjukan pukul 01.16 malam.
"Hemm... Aneh sekali. Bukankah di asrama ini para siswa tidak diperbolehkan pulang terlalu larut. Dan juga, bila dia izin pulang kerumahnya, hari ini kan bukan week end?" Begitulah pikir Dea dalam benaknya
Sembari melepaskan aksesoris baju olahraga yang belum sempat dia ganti saat tiba di kamar. Setelah berganti baju dengan menggunakan piyama tidur. Dea pun bermaksud mengecek jadwal esok dan memeriksa apakah ada tugas kelas untuk besok. Yah, dikarenakan dia juga sudah keburu melek dan tidak berniat tidur lagi.
Dea terduduk di meja belajarnya sebari mempelajari tugas apa saja yang harus dia lakukan dalam klub voli sekaligus mengerjakan resume tugas kelas besok. Lalu, disaat sedang hening -heningnya Dea mendengar bunyi langkah kaki menuju kamarnya. Awalnya dia kira bahwa itu adalah teman sekamarnya. Namun dia tunggu setelah beberapa menit pintu kamar tak kunjung ada yang mengetuk.
"Aneh, kenapa dia tidak mengetuk pintu atau membuka kunci kamar?" (Disitulah, Dea mulai merasa cemas).
Glek, Dea menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya tepat pukul 02.20 dini hari. Namun sebelum dia membuka pintu yang terkunci itu. Dea mengingat percakapan anak-anak di kelas mengenai asrama wanita di sekolah.
Hey...kau sudah dengar?
Dengar apa emang?
Kudengar di asrama wanita itu ada hantunya loh.
Ehh.. yang bener...serem banget
Iyah, aku dengar dari seniorku yang tahun lalu tinggal diasrama. Katanya pada malam hari selalu saja ada suara langkah kaki di lorong kamar.
Ihh...seram dong, ....
Iyah,... Katanya lagi hantunya itu seumuran dengan kita. Jadi pas zaman dahulu kala. Ada siswi asrama yang mati gitu...dan arwahnya gentayangan di asrama sampai sekarang.. dan dia selalu mengganggu siswi yang lagi di kamar sendirian...
Uwahh... Aku jadi takut ihh.. tapi untungnya kita sekamar yah. Pokoknya kalo ada apa-apa aku gak mau sendiri akh..
Iyah...aku juga takut..kalo sen..di..rian...
Setelah mengingat cerita yang tadi siang di sekolah. Tangan Dea pun menjadi gemetaran. Dia mulai ragu untuk membuka pintu tersebut.
Disaat dia melepaskan tangannya dari gagang pintu. Dia pun mendengar suara dengkuran halus di balik pintu kamar...
Hugh.....syuhh....
Dea pun kembali mendekati pintu dan menempelkan telinganya pada pintu kamar.
krek... Cekrek... Gagang pintu terlihat bergerak seakan ada seseorang yang hendak membuka pintu itu.
Sontak Dea mundur dari depan pintu. Hingga terdengar suara seseorang terjatuh di balik pintu.
"Su...suara apaan itu?. Bener-bener dah. Padahal di cerita ini gak ada genre horornya. Kenapa ada banyak hal mistis kaya gini sih." (Mendekati Pintu dan mencoba membuka pintu karena penasaran dengan suara jatuh tersebut).
Saat Dea membuka pintu dia dikagetkan dengan wajah seseorang yang amat dekat sekali menghadap ke wajahnya. Hingga akhirnya Dea menjerit saat itu juga yang membuat seisi lorong mendengar suaranya.
"Huwaaaa... Hantuuu...." Teriak Dea. Brug, ... Hingga tubuh orang tersebut menindihnya.
"Lah, ternyata bukan hantu yah. Kamu toh ternyata," sembari menarik tubuh teman sekamarnya ke dalam sebelum penghuni kamar yang lain terbangun dan melihat mereka diluar kamar.
"Uwaaa, ngantuknya. Padahal aku baru saja terbangun," sembari melihat jam yang menunjukkan pukul 02.45.
Setelah membaringkan teman sekamarnya di ranjang miliknya. Dea menuliskan beberapa sedikit catatan untuk jadwal besok. Tentu saja jadwal pelajaran dan jadwal latihan voly sore nanti juga.
Usai menulis beberapa catatan, Dea kembali rebahan di ranjangnya sembari melihat ke langit-langit atap kamar. Hingga matanya mulai lelah dia pun tertidur kembali.
Uwaaa karena besok jadwal padat, aku harus banyak istirahat dan bangun pagi. Selamat malam...
ππππππ
BEFORE NEXT BAB 3
BAB 1. KESAN
Manusia hanya bisa berusaha, tapi tetap saja Tuhan yang menunjukan jalannya. Sebelumnya aku tak pernah menyangka akan mengenalnya dan mencintainya sebesar dan sedalam ini.
Setelah berulang kali aku alami banyak hal. Akhirnya, kini aku merasakan masa ini juga. Orang bilang, masa SMA adalah masa terindah dalam hidup seseorang.
Yah, kini aku sudah menjadi siswi SMA. Aku bekerja keras agar bisa memasuki sekolah ini.
Sekolah yang konon katanya terkenal bukan hanya di Indonesia tapi juga Se-asia. Dari semua kerja kerasku sendiri. Aku berhasil memasuki SMA Favorit ini.
Yah sebenarnya, pada awalnya aku hanya mencari peruntungan saja mendaftar ke sekolah bergengsi ini. Meski pada awalnya aku sempat pesimis. Namun ternyata Tuhan berkata lain. Aku berhasil lolos ujian masuk umum dengan nomer urut terakhir di SMA STARS.
Karena lokasi SMA STARS sangat jauh dari rumahku. Maka aku harus tinggal di asrama yang sudah di sediakan sekolah. Tentu saja aku mengetahuinya, bahwa SMA ini memiliki fasilitas asrama bagi siswa dan siswi yang rumahnya jauh. Akhirnya aku pun datang ke sini diantar kedua orang tuaku untuk persiapan sekolah yang akan diadakan lusa. Diasrama ini tidak hanya aku yang tinggal. Tapi ada beberapa siswa dan siswi yang lain pula yang datang dari jauh hanya untuk bersekolah disini.
"Wah.. akhirnya, aku sudah jadi siswi SMA. Aku tak sabar menunggu lusa π ."
Begitulah perasaanku saat pertama kali menginjakkan kaki di asrama.
Setelah aku mendapatkan ruanganku, kedua orangtuaku dan adikku segera pulang. Yah, karena lokasi rumahku sangat jauh dari SMA STARS ini.
"Dea, pokoknya kalo ada apa-apa telfon yah jangan lupa. Kami pulang dulu yah nak, jaga kesehatan disini." Setelah berpamitan keluargaku pun pulang kekediaman kami di Depok.
Kini aku merasakan ada semacam gejolak semangat dan penasaran dalam hatiku ini.
"Seperti apa yah lusa nanti? Aku sangat tidak sabar dan menantikannya."
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Aku sudah bersiap dari pagi buta sekali, mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke sekolah pertamanku di SMA STARS .
Namun harapan itu pun musnah mengingat siswa/i yang lainnya bersikap dingin dan acuh tak acuh.
"Hugh... Apa di sekolah elite emang seperti ini yah. Baru hari pertama saja sudah pasang muka serius."
"Aghhh... Tuhannn.... Bagaimana ini? Padahal ini adalah Masa SMA yang aku nantikan."
Dea terduduk di bangku paling belakang. Dikarenakan siswa/i di SMA STAR duduk sesuai dengan urutan tempat duduk yang sudah disediakan.
Tak lama pelajaran pun dimulai. Dea duduk di meja paling belakang di bangku paling sisi pojok. Dia menatap jendela yang terdapat pemandangan yang indah. Namun karena kesan pertama masuk sekolah yang kaku tersebut. Dia pun tak sempat menikmati pemandangan yang indah saat itu. Lalu Dia membalikan mukanya ke arah depan lagi dimana pak guru sedang mengajar.
Begitulah kesan pertama yang Dea rasakan saat memulai sekolah. Hal demikian berlanjut hingga seminggu terakhir ini. Dea yang merasa tak nyaman pun hanya pulang ke asrama tanpa melakukan Hal apapun.
Pukul 14.30 asrama
Dea membuka pintu kamarnya, dilihat kasur disampingnya yang masih tertata rapi. Rupanya teman sekamarnya masih belum pulang dari kegiatan di kelas. Dia pun tertidur dengan lelapnya.
Tiga jam telah berlalu saat Dea terlelap tidur. Disaat dia membuka matanya perlahan. Terlihat sosok wanita dengan wajah menghadap muka Dea yang sedang rebahan di kasur. Dea pun kaget bukan main sehingga dahi dan dagu mereka berbenturan pada akhirnya.
"Adaww... Sakit... Woy. Maen sundal sundul aja lu. Lu pikir gue bola!" ucap orang itu pada Dea.
"Aww.. jidatku sakit. Ah maaf-maaf, habisnya aku terkaget. Lagipula kenapa kau memandangi wajahku yang sedang tertidur? Buat merinding aja ikh." ucap Dea dengan sedikit menjauh dari wanita teman sekamarnya itu.
"Oyy... Kenapa lu? Emang gue najis apa elu sampe ngejauh kaya gitu? Ini anak bener-bener bikin kesel ya. Eh.. dengerin, gue liatin muka lu saat tidur karena gue penasaran aja kenapa cara tidur lu aneh begitu. Lagipula, hahahaha..lu tidur Ampe ngiler gitu. Mau buat pulau lu? Ha-ha-ha." wanita itu pun tertawa terbahak-bahak.
Sialan... Tadi udah ngagetin ! Sekarang malah ngejek gue sambil ketawa lagi. Benar-benar temen sekamar yang menyebalkan. Begitulah gumam Dea dalam hatinya.
"Ahh.. tidak kok. Aku gak ngiler, dasar kau ini bohong aja akh. Pokoknya awas ya kalo ngelakuin itu lagi. Aku bisa marah loh." ucap Dea sambil berdiri.
"Yahh... Terserah elu dah." pungkas wanita tersebut sambil berbaring di kasur miliknya. Hingga akhirnya dia tertidur dengan pulasnya.
Crook...crook...crokkk... Hiuwww......fyuhhh..huwhhhh...
"Pufff" Dea menahan tawa melihat cara wanita tersebut tertidur dengan pulasnya.
"Ahh.. tidak boleh... Aku tidak boleh menertawakan orang yang sedang tertidur!" lantas Dea menggelengkan kepalanya untuk bersikap sopan kembali.
"Hmm, Waktu masih sore. Aku sedang tidak ada kerjaan. Apa aku melihat-lihat suasana sekitar asrama ya." Melihat pemandangan luar yang cerah membuat Dea tertarik pergi keluar sore itu.
Dea kemudian memutuskan untuk keluar kamar mengisi waktu senggangnya memilih untuk melihat-lihat keadaan asrama dan daerah sekitar sekolah di sore hari.
Dia berjalan menyusuri jalanan gymnasium dekat asrama wanita. Tak jauh dari gymnasium tersebut terdapat asrama pria yang dipenuhi dengan gantungan baju yang berserakan.
"Nice ball"
"Nice blok"
"One toched, zaen."
Di dalam gymnasium terdengar suara beberapa orang yang sedang beraktivitas. Dea yang sedang senggang melihat-lihat ke dalam sembari melirik ke kanan dan ke kiri.
"Hmm, Gpp kali yah kalo aku masuk ke sini?. Yah... lagipula, aku juga siswi di sekolahan ini. Jadi tentu saja tidak apa-apa kan hhe." (Tanpa pikir panjang lagi, dea memasuki gymnasium tersebut).
"Chance ball"
"All right,... All right..."
Buzhhhh.....
"Nice kill, Tomaz."
"Ahh... oke Cell."
Dea ternganga dalam kagum melihat aksi para cowok tampan pemain bola voli di lapangan yang sedang bertanding.
"Kyaahhh.... Marcell, Tomaz, zaen, rain, semangattt." Teriak para cewek-cewek di tribun.
Zaen :"Ahaaah, mungkinkah karna pesonaku yang tak tertahankan ini membuat para cewek-cewek berteriak histeris."
~Zaen : kelas 2 posisi wing spiker, tinggi 178 cm. Rambut pirang keturunan indo Jerman. Meski memiliki wajah cukup tampan tapi ia juga seorang cowok yang kepedean akan penampilannya.
Oliver : "Sihhh... Cewek-cewek yang berisik sekali. Tidak tau apa kita sedang berlatih butuh konsentrasi."
~Oliver: kelas 1, posisi setter. Tinggi 184 cm. Salah satu pemain genius dalam olahraga voli. Memiliki tubuh atletis, tidak suka makan makanan berminyak.
Tomaz : "Oliver, kau tidak boleh begitu. Karna berkat dukungan mereka kita bisa selalu bersemangat bukan?"
~Tomaz: siswa kelas 3 tinggi 182 cm, posisi wing spiker. Ia merupakan kapten tim bola voli sma star.
Rain: "Ahaha dengar itu Oliver, kapten jadi ikut bersuara kan."
~Rain: kelas 2 posisi blokker tingginya mencapai 192 cm. Ia merupakan pemain tertinggi di tim bola voli star.
Marcel: "Siap-siap bola menuju ke arahmu rain."
~Marcel : kelas 2, tinggi 185. lelaki yang berambut cepak yang menjadi pujaan gadis sejak pertama masuk tim bola voli.
Oliver : "One toched, Lary bolanya mengarah padamu."
Lary: "Baik, Serahkan padaku."
Tomaz: "Nice Lary."
Lary : "Siip..."
~Lary : siswa baru kelas satu tinggi 175 cm. Dia merupakan salah satu pemain tim bola voli yang paling imut di SMA star. Posisi sebagai Libero yang bertugas sebagai pemain bertahan.
Priwittt... Suara Pluit berbunyi tanda pertandingan persahabatan telah usai.
"Wahh, Tim yang memakai baju hitam dengan logo star itu. Pasti mereka tim bola voli SMA star.
Aku sih tau bila sekolah ini terkenal akan prestasi olahraganya. Tapi ini.... ini benar-benar keren sekali. Aku kira hanya olahraga lari saja yang keren. Namun olahraga voli juga sangat keren. Ditambah, mereka semua tampan dan keren."
Dea yang terduduk di tribun pun merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat mereka bermain. Seakan jiwa olahragawannya pun kembali.
"Sudah aku putuskan, aku akan coba untuk mengikuti ekskul bola voli. Meski aku tidak bisa berlari secepat dulu lagi. Aku pasti bisa bermain bola voli seperti mereka." dan secara tiba-tiba dia mulai bersemangat kembali menyaksikan olahraga voly tersebut.
✨✨✨ππππ
Setelah membulatkan tekad yang kuat Dea pun mencari ruang klub voli keesokan harinya.
"Hemm... Buset dah. Ruang klub aja sampe segini besarnya. Sekolah elit emang beda yah. Apalagi bila dibandingkan sama SMP saat di kampung halamanku hihihi." ujar Dea ketika melihat bagian dalam klub voli tersebut dari luar ruangan.
π"RUANG KLUB BOLA VOLI"π
Terlihat seseorang sedang membersihkan loker di dalam ruangan. Dea pun langsung menyapa orang tersebut sebari menanyakan teknis perekrutan tim bola voli.
"Permisi, Aku Dea. Aku mau menanyakan..."
"Maaf perekrutan sudah di tutup seminggu yang lalu." Ucap lelaki tersebut sembari membenahi loker tersebut sebelum dea selesai dengan pertanyaanya.
"Apaaa.... Aku tidak pernah dengar tuh yang seperti itu?" ujar Dea tidak tau apa-apa akan hal itu.
"Hahh... (menghela nafas) Kau.... Kau pasti murid kelas satu kan?" ujar lelaki tersebut.
"Hahahaha... Terlihat yah, iya begitulah jadi aku tidak tau apa-apa." balas Dea dengan santainya.
"Apaaa... Emangnya pada masa orientasi kau tidak mendengarkan?. Khusus untuk tim bola voli itu perekrutannya pada saat masa orientasi. Dan juga klub bola voli STAR itu hanya terdiri dari para lelaki. Walaupun ada perempuan, mungkin sebagai manager tim saja." ungkap Lelaki tersebut mencoba menjelaskan.
"Apaaa... Curang... Kenapa wanita tidak ada? Lagipula menjadi manager itu tidak menyenangkan. Aku ini kan lumayan atletis." Ucap Dea dengan penuh kepercayaan diri.
"Hohoho... Rupanya kau penuh percaya diri juga yah. Kalo begitu, mau coba bermain voli sekarang juga?" Ungkap lelaki tersebut menantang Dea.
"Haha.. aku terima tantanganmu." Jawab Dea dengan penuh percaya diri.
"Tapi tunggu dulu, biar aku hubungi para senior terlebih dahulu. Apakah kau diizinkan ataukah tidak. Lagipula, aku juga masih baru disini."
*Lelaki yang berada di hadapan Dea adalah Lary. Siswa kelas satu yang kebetulan berada di kelas sebelah dari kelas Dea.
'Gehh... Padahal dia masih kelas satu sama sepertiku. Tapi laganya udah kaya senior saja. Hugh...aku salah mengaguminya kemarin. Padahal saat dia bermain voli, ia terlihat keren sekali. Tapi disaat di luar lapangan, sikapnya benar-benar menyebalkan sekali. awas saja yah, lihat saja kau. Akan aku buat dia menyesal nanti. Kau pasti terpukau dengan keatletisan gerakanku haha.' gumam Dea dalam benaknya penuh semangat.
π²π²π²
"Hallo, ini aku Lary. Maaf mengganggu, saat ini di ruang klub ada seseorang yang mau mengikuti tes masuk klub voli. Apakah anda ada waktu untuk melihatnya kapten?"
"Ya, baik kapten.. kalo begitu nanti saya sampaikan." ucapnya mengakhiri telponnya tersebut.
"Oh ya siapa namu tadi?" tanya lary pada Dea.
"Dealovin, panggil saja aku Dea. Kau?" tanyanya balik.
"Aku Lary." jawabnya singkat.
"Hmm" Dea terdiam mendengarkan.
"Maaf, tapi kapten tak bisa untuk hari ini. Jadi tesnya akan diadakan Minggu depan di gymnasium pukul 15.00. kau bisa datang kan?"
"Hah... Apa? Huh... Mau bagaimana lagi. Baiklah Minggu depan yah. Kalo begitu, aku permisi dulu." Ucap Dea sedikit kecewa keluar dari ruang klub.
"Ahh... Iyah... selamat berjuang oke." ucap Lary pada Dea sembari kembali membenahi ruang klub.
"Idih, apa-apaan selamat berjuang ya. Kau pikir aku bakal kesulitan apa?. (merasa sedikit kesal)
Lihat saja ya, akan aku bungkam wajah menyebalkanmu nanti.
Ha-ha-ha (tersenyum dan sangat menantikan nanti), ungkap Dea dalam benaknya tersenyum dengan wajah yang cukup membuat orang merinding melihatnya.
ππππππππ
LIBERO
SINOPSIS :
Menceritakan Dea seorang siswi biasa yang bersekolah di akademi star tempat para atlet berbakat menimba ilmu. Dea bertemu dengan Lary ketika dia hendak memasuki klub voly disekolahnya. Sayangnya Dea tidak lolos ujian masuk tim dan hal lainnya. Akhirnya dia menjadi manager tim bola Voly meski terpaksa dan tidak berniat. Hingga akhirnya dia menyadari bahwa berjuang dan berkarya tidak harus selalu menjadi pemain dan pada bidang yang dia sukai. Dia mulai menyukai tugasnya dan semangatnya kembali naik ketika melihat perjuangan tim dalam setiap kejuaraan.
GENRE : SCHOOL, SHONEN, SHOUJO, SPORT
STATUS : ON GOING
DAFTAR ISI
BAB 1. KESAN
BAB 2. SERVEKU
BAB 3.
BAB 4.
BAB 5 .
PROLOG
Namaku Dealovin panggil saja aku Dea, aku sangat suka sekali dengan olahraga. Cita-citaku dari kecil adalah aku ingin bisa menjadi seorang atlet lari profesional.
Setiap ada waktu aku selalu meluangkan waktu untuk berlatih berlari setiap hari.
Saat aku kelas 6 SD aku sangat antusias sekali ingin mengikuti kejuaraan atletik tingkat SD. Saat itu, aku baru berumur 12 tahun lebih tepatnya aku masih kelas 6 SD. kala itu guru olahragaku mengadakan seleksi tes lari jarak pendek untuk setiap siswa baik itu laki-laki ataupun perempuan.
Aku sangat antusias sekali kala itu. Catatan waktuku juga menunjukan waktu terbaik. Aku sangat berharap bisa mewakili sekolah kala itu. Namun ternyata bukan akulah yang terpilih menjadi wakil dari sekolahku saat itu. melainkan kelas sebelah yang mewakili kejuaraan lari dari sekolah kami.
Mendengar perwakilan dari sekolah kami kalah sebelum berlari sampai finish membuat hatiku hancur. Selintas aku mengoceh dalam benakku, "andai saja, aku yang mewakili kejuaraan lari saat itu. Andai saja bukan dia".
Meski demikian aku sadar, sesuatu yang seperti itu tak akan mungkin terjadi. Ini adalah kenyataan, meski dia tidak menang. Tapi dia sudah berusaha meski kalah sebelum berlari.
Aku hanya bisa menahan rasa sakit di dada ini. Aku tak sanggup memberikan semangat kepadanya yang kalah dalam bertanding. Aku memang egois, sepertinya aku memang tak pantas menjadi perwakilan kelas. Aku pun mencoba menerima semua keraguan dan kesedihan yang aku alami.
....
Tak lama dari kejuaraan lari diadakan. Kami kelas enam disibukan dengan persiapan ujian nasional untuk kelas enam. Hingga hari ujian tiba kami mengikutinya dengan hikmat. Sampai tiba saatnya acara pelepasan siswa kelas enam.
Kini aku sudah menjadi murid kelas 1 SMP. Aku masih terus berlari setiap minggunya. Aku masih belum menyerah untuk menjadi seorang atlit lari.
Suatu ketika saat aku dan teman-teman hendak pulang dari sekolah dan menunggu angkot. Kami bersenda gurau di pinggir jalan. Lalu... Kejadian itu pun menimpaku. Aku tak pernah menyangka akan tertabrak kendaraan bermotor kala itu. Aku terjatuh berguling dan tepat di lututku, seketika aku mengalami cedera. Dikarenakan aku tak mengalami luka yang parah aku tak di bawa ke rumah sakit. Aku diantar pulang oleh orang yang membawa motor tersebut. tentu saja dia meminta maaf atas kejadian yang menimpaku. teman-temanku pun menghawatirkan keadaanku. tapi karna aku merasa baik-baik saja aku hanya minta diantar pulang ke rumah saja sudah cukup untukku.
Beberapa minggu kemudian, ada tes lari di sekolahku. Ntah apa yang terjadi, lariku menjadi sangat lambat sekali. Ternyata karena cedera pada lututku tempo hari. setelah diperiksa pada dokter akhirnya aku mengetahui sebabnya. aku tak bisa lagi berlari seperti sedia kala, aku mengalami cedera lutut yang menyebabkan kakiku tak dapat berlari secepat dulu lagi. mendengar berita buruk dari dokter membuat diriku terguncang dan putus asa. mimpiku selama ini hancur seketika saat itu.
Oleh karena itu, aku putuskan untuk berhenti berkeinginan menjadi seorang atlit lari.
BAB 5. MARKER
Tanpa terasa malam semakin larut. Namun hujan masih mengguyur kawasan hotel Welliam's. Aluna dan semua tim Ekspedisi Greenly berada di kamar mereka masing-masing. Dalam keadaan hujan deras aluna tak kunjung tidur karena takut akan suara petir yang menggelegar terdengar di kupingnya. Dia terjaga sepanjang malam hingga hampir pagi dia barulah bisa tertidur.
******
Keesokan paginya semua tim ekspedisi sarapan bersama. Tampaknya ada beberapa orang yang tak hadir disana. Aluna melirik sekeliling meja makan namun tak dia temukan Profesor Obalyn dan Profesor Johnson. "Apa mereka belum bangun?. Ahh tidak mungkin. Pasti karena alasan lain mereka tidak sarapan pagi. Lagipula, penutupannya sudah selesai kemarin sore bukan?" ungkap aluna dalam hatinya sembari menikmati sarapan pagi.
Ditengah lamunannya kala itu. Vincent dan Shin datang menghampirinya yang sedang terduduk sendirian di mejanya. "Sendirian aja, mana Paula teman sekamarmu?" tanya Shin terduduk di hadapan Aluna yang masih dalam lamunannya."Hey... Halloo. " Shin mengarahkan tangannya di depan wajah Aluna.
"Ahh, (Aluna tersadar dari lamunannya) Kak Shin. Kapan kau ada disini?" (Aluna tersenyum dan tampak bingung kenapa Shin tiba-tiba ada di hadapannya).
"Kau ini.. (Shin menggelengkan kepalanya) yasudahlah mungkin kau masih lelah." ujar Shin yang tak ingin pembicaraan mereka tambah panjang. Dia lantas meminum teh hangat yang sedang dipegangnya itu. Tak lama Vincent datang dengan membawa kopi hangat serta roti sebagai menu sarapan paginya.
"Yah, Kak Shin suka sereal sebagai sarapan pagi rupanya?" ujar Vincent menghampiri dan terduduk diantara mereka. "Ahh pagi.." sapa vincent pada Aluna mengangukan kepalanya.
"Amh, pagi juga." balas Aluna. Lantas dia sedikit mengerutkan keningnya dan matanya melotot terkaget sedikit heran karena beberapa waktu lalu mereka tidak pernah berinteraksi. Bahkan meski mereka berdua berada di angkatan yang sama sehingga Aluna sedikit terkejut dengan sikap Vincent pagi ini.
•••
Sekilas INFO...
Sejak awal pelatihan sebelum keberangkatan ekspedisi. Vincent hanya berinteraksi dengan Shin seorang di karenakan dia adalah seniornya di klub beladiri dan salah satu senior yang dia hormati sebelum masuk Wells University. Mereka dahulu pernah tinggal bertetangga ketika di London. Dikarenakan hanya berbeda satu tahun dengan Shin. Lantas mereka sudah seperti teman dekat. Namun Vincent tetap menghormati Shin dengan memanggilnya kakak/senior. Dia tidak memiliki kakak atau adik sehingga kehadiran Shin membuat Vincent terasa memiliki seorang kakak. Awalnya Vincent tidak pernah tertarik mengikuti ekspedisi yang diadakan di kampusnya. Meski keluarganya sudah mendorongnya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dia tak ingin mengikuti kegiatan tersebut karena dia kira kegiatan itu tidak terlalu menarik. Hingga pada akhirnya dia mengetahui bahwa Shin akan mengikuti kegiatan ekspedisi yang pernah keluarganya bahas beberapa waktu lalu.
Vincent merupakan salah satu mahasiswa dengan kepandaian diatas rata-rata di angkatannya. Terutama untuk jurusan Biologi yang nanti pada akhirnya akan menjadi seorang ilmuan kelak. Dia bahkan sudah pernah ikut serta melakukan beberapa riset untuk ukuran anak SMA hingga mendapatkan beberapa penghargaan. Namun meski dia memiliki bakat dan talenta yang luar biasa. Sayangnya dia tidak banyak memiliki motivasi untuk dirinya sendiri. Meski keluarganya berasal dari keluarga ilmuan yang ahli dalam ilmu fisika. Dia tidak terlalu tertarik dengan yang namanya ilmu Sains dan lainnya. Dia ahli dalam berbagai hal, namun tak satupun yang membuat dia tertarik. Bahkan saat mengikuti pelatihan untuk Ekspedisi Greenly saja, dia melakukannya hanya karena ada Shin senior yang dia hormati di dalamnya. Tidak banyak yang dapat membuat dia tertarik di sepanjang hidupnya. Dia tak pernah mendapat saingan yang mampu menandingi kegeniusannya. Hingga saat tes seleksi ekspedisi dimulai dan dia ketahui ada seorang mahasiswi yang mampu bersaing dengan dirinya. Mahasiswi itu adalah Aluna. Pada awalnya Vincent sempat sedikit bersikap jutek kepada Aluna. Namun seiring pertemuan mereka di lokasi ekspedisi sebagai satu tim. Sikap Vincent kini berubah sedikit lebih baik pada Aluna. Ditambah lagi semenjak dia mengetahui bahwa Aluna adalah salah satu dari keturunan keluarga Hoppes. Meski demikian, dia tidak secara langsung bisa mengakrabkan diri dengan Aluna. Dia masih lebih sering berbincang dengan Shin ketika mereka bertiga bersama.
•••
Usai sarapan pagi mereka bertiga kembali ke kamar untuk packing baju bersiap-siap ceout hotel. Mereka bertiga keluar hotel dan menaiki mini bus bersamaan dengan semua peserta ekspedisi dengan tujuan bandara. Ditengah perjalanan mereka melihat kerusakan yang diakibatkan hujan badai tadi malam. Pohon-pohon tumbang dan ada juga pohon yang tersambar petir. Namun dikarenakan sigapnya petugas pemerintah di daerah sekitar. Semua kerusakan dapat segera diatasi setelah hujan reda di pagi buta tadi meski bekas kerusakan masih terlihat di sepanjang jalan.
Aluna melihat-lihat rekan yang lainnya. Namun tampaknya tak dia temukan seseorang yang dia cari. Lantas dia menatap jendela mobil kembali dan sedikit menghela nafas. Sesampainya di bandara semua peserta menaiki pesawat yang akan segera berangkat tepat pukul 10.20 sesuai dengan tujuan mereka masing-masing. Aluna, Vincent dan Shin menempuh perjalanan selama 2 jam 30 menit untuk sampai di kota Phinleaf dekat dengan ibukota Well. Peserta yang lainnya menaiki pesawat yang berbeda menuju kota mereka tinggal. Di bandara mereka berpamitan sejenak sebelum boarding pass menuju pesawat. Pesawat sampai di bandara Welles pukul 12. 21 siang hari.
LOBI BANDARA
Dikala keluar dari lobi bandara. Taxi yang Shin pesan sebelumnya sudah menanti. Dia menaiki taxi terlebih dahulu dan berpamitan dengan Aluna serta Vincent. Shin sempat mengajak mereka berdua untuk pulang bersama. Namun tampaknya mereka memiliki tujuan yang berbeda hingga tak bisa memenuhi ajakan Shin. "Hati-hati di jalan senior," ujar Vincent melambaikan tangan diikuti Aluna yang juga melambaikan tangannya. "Kau sudah memesan taxi? Apa masih belum datang?" tanya Vincent spontan setelah Shin pergi dengan taxi yang dinaikinya. "Hmm, aku mau naik bus umum dari sini dan kau?" ujar Aluna sembari melihat jam tangannya. "Ahh kau juga kah?" ungkap Vincent yang sedikit terkejut.
•••
Mereka berdua pulang menggunakan bus dengan tujuan kompleks perumahan Phinleaf dekat kampus Well University. Aluna turun terlebih dahulu diikuti Vincent di menit ke dua. Vincent turun dari bus berjalan beberapa langkah dari halte pemberhentian. Dia lihat jam tangannya dan mampir ke minimarket sejenak. Keluar dari sana dia berjalan kembali menuju tempat tujuannya. "Hey bro, Lo udah balik aja. Kenapa gak minta jemput gua aja sih!" ujar Edgard yang baru membeli beberapa minuman berada dibelakangnnya.
"Ahh, buat apa. Emang gue anak kecil." balas Vincent membuka pintu gerbang.
...
"Wahh, asik lu beli cemilan banyak juga ternyata (melirik kearah kantung kresek yang dibawa Vincent). Btw gua mau bikin mie Lo mau?" ujar Edgard sembari mengambil cup mie di lemari.
"Nggak deh, gue capek dari perjalanan. Gue mau tidur dulu," ungkap Vincent yang meletakan bawaannya lalu langsung menuju kamarnya.
"Oke, Lo istirahat aja yang banyak. Gue mau makan mie dulu kalo gitu." ujar Edgard menuju dapur.
...
Sembari menikmati mie yang baru saja dia buat. Edgard menonton televisi yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola. Sementara Vincent berada di kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
...
Sekilas INFO....
(Edgard adalah sepupu jauh dari Vincent. Ibu dari Edgar merupakan saudara dari keluarga Vincent. Rumah yang mereka tinggali saat ini adalah salah satu rumah keluarga Vincent yang terletak Phinleaf yang letaknya tak jauh dari kampus. Awalnya rumah itu merupakan salah satu kos-kosan yang biasa di sewa mahasiswa lelaki. Namun dikala Vincent kuliah di Well University, rumah tersebut tidak lagi dijadikan tempat kos-kosan melainkan tempat tinggal pribadi. Alasannya adalah karena Vincent tak terlalu suka dengan kehadiran banyak orang disekelilingnya. Bahkan di kelasnya sendiri Vincent tak banyak teman disana. Meski dia merupakan salah satu mahasiswa terpandai. Satu-satunya teman yang dekat dengannya hanya Edgard sepupunya dan Shin seniornya).
BEBERAPA JAM BERLALU
"Hoamm." Vincent keluar dari kamarnya setelah tidur selama 4 jam.
"Kau sudah bangun?" ujar Edgard sembari menonton siaran televisi kala itu. Tiba-tiba ketika iklan terdapat berita breaking news yang disiarkan mengenai kejadian di daerah Welliam's. "Hey, bukankah itu daerah dimana kalian menginap?" ujar Edgard sembari melihat kearah Vincent.
"Ahh.."(mencoba melihat namun karna tak jelas dia mencoba menghampiri dengan sedikit berjalan menuju sofa). Vincent melihat berita tersebut dengan posisi berdiri. "Kau benar, saat itu memang ada hujan badai. Bahkan saat pulang banyak pohon yang roboh kala itu. Hoamm... (menguap dan sedikit mengucek matanya)," ujar Vincent yang masih belum sepenuhnya membuka mata.
"Gilaa. sampai separah itukah (menunjuk ke arah Tv yang memperlihatkan tempat kejadian). Syukurlah kau dan yang lainnya baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan ekspedisinya?" tanya Edgard pada Vincent.
"Amh.. bagaimana yah?" Vincent terdiam sejenak dan berjalan menuju kamar mandi. "Nanti aku ceritakan bila sudah ingat," ujarnya meninggalkan Edgard di ruang Tv.
"Shinhh.. Dasar.. dia tak pernah serius.. ahh sudahlah nonton lagi mending." Edgar memindahkan chanel Tv menjadi hiburan musik dan mulai menggoyangkan kepalanya.
•••
KEDIAMAN ALUNA DI TOKO ROTI
"Bukankah kau lelah, setelah pulang dari Welliam's?" tanya Paman Aluna seketika begitu melihat keponakannya itu mencoba membawakan beberapa nampan yang berisi roti.
"Tidak kok Paman, aku sudah istirahat tadi. Sini Paman, Biar aku bawakan rotinya ke etalase (Aluna mengambil nampan berisi roti dan menaruh roti yang dibawanya ke etalase toko). "Apakah hanya segini yang kita jual hari ini?" tanya Aluna ketika sudah menaruh semua rotinya.
"Yah, aku rasa cukup sebanyak itu, Lagipula hari ini sedang tidak banyak pesanan." ujar Pamannya sembari menaruh celemek yang dipakainya.
"Paman istirahat saja, biar aku yang jaga toko saat ini." ujar Aluna sembari merapihkan beberapa tatanan roti di etalase.
"Amhh.. baiklah, bila sudah pukul 19.00 kau bisa tutup tokonya yah." Pamannya merapihkan bajunya dan masuk ke dalam ruangan tengah.
"Baik paman, selamat beristirahat." Aluna terduduk di kursi dimana tempat kasir berada.
MALAM HARINYA
Pukul 19.00 aluna menutup toko roti Pamannya. Dia menuju ruang makan dimana bibinya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Duduklah Luna, bibi sudah masak Risotto kesukaanmu." Bibinya menaruh makanan di depan kursi Aluna.
"Wahh, senangnya. Rasanya senang sekali bisa makan masakan bibi lagi (Mencium aroma Risotto dihadapannya)." Ungkap Aluna merasa sedikit bersemangat melihat menu makan malam kala itu.
"Ahh Luna ini, bila memuji paling bisa saja. Sudah cepat dimakan selagi masih hangat," ujar bibinya yang senang melihat kepoakannya itu menikmati masakan buatannya.
"Baik bibi, aku makan yah." Aluna memulai makan masakan yang ada dihadapannya itu.
"Kau ini, masa kalah dari Luna. Padahal Risotto itu tidak terlalu panas. Tapi makannya masih belum habis sedari tadi," ujar Bibi Aluna kepada Pamannya.
"Mau bagaimana lagi, aku ini tidak bisa makan selagi masih panas kan. Lidahku ini sudah sensitif dari dulu." Ungkap Pamannya yang memberikan alasan.
"Ahh yasudahlah, sini perlu aku tiupi agar cepat dingin?" mencoba meraih risotto yang sedang ada dihadapan suaminya itu.
"Wah, kau pikir aku anak kecil. Sudahlah.. lebih baik kau juga ikut makan bersama kami." Menganggkat Risottonya dan mencoba meniupi makananya sendiri.
"Iya..Iyah.. ini baru aku mau makan." Sedikit menyeringai sebelum memakan makanannya itu.
Aluna hanya bisa tersenyum melihat kehangatan yang ditunjukan oleh Paman dan Bibinya itu.
Beberapa Menit Setelah Makan Malam
"Oh yah Paman.. Bibi, aku ada sesuatu untuk kalian. Sebentar aku ambilkan dahulu dikamar yah" ujar aluna setelah menghabiskan makanannya dan mencuci piring. Aluna menuju kamar dan membuka koper yang belum sempat dia buka sehabis pulang dan beristirahat tadi siang. "Ahh ini, dan ini". Aluna mengambil beberapa barang dari koper dan kembali ke ruang tengah dimana bibi dan pamanya berada.
"Ini apa luna?" tanya bibinya yang terheran dengan benda kecil ditanganya.
"Itu adalah daun Semanggi berhati empat. Daun itu sangat terkenal di kalangan para pendaki. Aku mengambil daun itu ketika di hutan sebelum memasuki kastil. Banyak yang bilang bila kita menyimpan daun itu, maka keberuntungan akan datang. Percaya tak percaya sih. Namun karena langkanya daun itu, aku tertarik untuk mengambilnya. Bahkan aku sempat berebut dengan teman-teman ketika menemukannya" ujar luna antusias.
"Bukankah berarti ini sangat berharga buatmu Luna?", ungkap bibinya.
"Tentu saja, namun kalian lebih berharga buatku. Jadi sebagai seseorang yang berharga buatku. Aku ingin memberikan sesuatu yang berharga itu untuk kalian"
"Ahh kau ini buat kami terharu saja Luna..."
...
Aluna kembali ke kamarnya setelah selesai berbincang dengan paman dan bibinya. Dia tiduran diranjang setelah merapihkan beberapa pakaian. Dikala dia hendak memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar suara benda yang dilemparkan ke jendela kamarnya. Seketika dia membuka mata dan melirik ke arah jendela.
"Hmm, siapa yang iseng melempar batu ke arah jendela?" Aluna meneguk ludahnya seraya turun dari ranjangnya.
Dia sedikit ragu untuk membuka gorden jendela. Diriknya jam yang menunjukan pukul 23.00 malam hari. Melihat waktu yang sudah malam, dia urungkan membuka gorden dan kembali ke ranjangnya.
Plak.. suara jendela yang dilemparkan batu kecil.
Plak..
Plak..
"Huhhh.. siapa sih orang yang jahil ini. Rasanya tetangga belakang tak pernah seperti itu. Apa ada yang mau dia sampaikan ya?" ungkapnya kembali dalam hati.
"Tapi.. itu tidak mungkin, inikan sudah larut!" Aluna lantas menutupi bagian wajahnya dengan selimut.
Plak..
Plak..
Plak..
Dibalik selimut Aluna sempat merinding dan ketakutan dikarenakan suara itu. Ketika suara tersebut tak henti-hentinya menganggu. Aluna lantas kesal dan mengambil tongkat pemukul yang berada di pojok kasurnya. Spontan dia buka gorden dan jendela kamarnya tersebut.
"Ehh.. tidak ada orang... Glek, " tiba-tiba degub jantung Aluna semakin cepat. Dia merasa dibelakangnya ada seseorang yang berdiri. Dia tengok perlahan dan terkejut melihat sosok lelaki tinggi berjubah di belakangnya. Akhirnya dia pingsan dan tak sadarkan diri.
Lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengusapkan sesuatu ke kepala Aluna. Langit malam yang tadinya cerah diterangi rembulan tiba-tiba mendung dan hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar merobohkan pohon besar di sekelilingnya rumah dekat Aluna.
•••
Pagi tiba dengan pancaran sinar mentari menerpa wajah Aluna yang tergeletak di lantai. Dia membuka matanya perlahan. Dilihatnya sekeliling kamarnya dan mulai terkaget. "Astaga, kenapa badanku terasa dingin. Langit kamar juga tampak jauh sekali?" ujarnya yang belum sadar tergeletak di lantai. "OMG, aku... kenapa aku tidur dilantai?" Aluna akhirnya tersadar dan bangun dari tempatnya tergeletak. "Huacchih," suara bersin yang dikeluarkannya karena kedinginan.
"Aluna.. kau sudah bangun. Ayo cepat turun dan sarapan." Panggil bibinya untuk segera sarapan pagi.
"Iya bibi, aku segera turun." Aluna keluar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. "Haah, ada apa denganku ini. Aku merasa lelah sekali. Padahal baru saja bangun tidur. Apa karena aku tidur dilantai kah. Lalu kenapa aku bisa tidur dilantai?" Aluna masih tampak bingung seraya melihat wajahnya di kaca ketika mencuci wajahnya.
KAMPUS_MIPA1
Aluna berjalan di lorong kampus menuju kelasnya. Hari itu adalah hari pertamanya memasuki kelas biologi A setelah dia mengikuti ekspedisi beberapa hari lalu. Aluna pindah kelas berdasarkan hasil tes ujian masuk dan pencapaiannya sebagai peserta ekspedisi untuk para calon peneliti masa depan. Dia memasuki ruang kelas yang tampak asing baginya. Aluna yang notabenenya dari kelas biologi D dimana hanya terdapat mahasiswa biasa disana.
"Hallo, namaku Aluna dari biologi D. Salam kenal semuanya,"ujar Aluna sebelum memasuki pintu kelas biologi A. Meski sedikit gugup berada dikelas yang baru. Aluna memasuki ruangan dan terduduk di kursi yang masih kosong. "Ahh, rasanya aneh sekali disini. Lagipula mereka kenapa diam saja melihatku?" ungkap Aluna ketika duduk di kursi yang masih kosong.
Beberapa saat kemudian Vincent memasuki kelas. "Ahh, Vincent," spontan Aluna melambaikan tangannya kepada Vincent. "Yah, kau jadi benar berada di kelasku? Tidak heran sih," ujar Vincent kepada Aluna sembari berjalan mendekati bangkunya. Lantas dia terduduk disamping Aluna yang terduduk di belakang. Teman-teman sekelas terkejut melihat Vincent yang tak pernah bicara dengan sembarang orang memulai percakapan dengan Aluna yang baru masuk ke kelas mereka. Dia bahkan terduduk di samping Aluna untuk menemaninya.
"Wahh, apa-apaan ini?. Akan ada badai apa rembulan cerah di Phinleaf." Ungkap anak-anak biologi A secara pelan melirik kearah mereka
•••
Hingga beberapa saat kemudian Dosen memasuki ruangan dan memulai kuliahnya kala itu.
BEFORE NEXT BAB 6
BAB 4. PERMULAAN PETAKA
RUANG TENGAH KASTIL
Ketika Aluna berjalan menuju ruang tengah kastil. Semua orang sudah berkumpul disana. Vincent dan Shin juga tampak berada di tengah-tengah mereka.
"Ada apa ini? Kenapa mendadak ramai begini." Aluna lantas menghampiri keramaian tersebut. "Apa? Sebuah peti?" dia terkaget dengan temuan teman-temannya itu.
"Karna berat, kami meminta teman-teman yang lainnya untuk membawa kemari. Namun kami belum tau apa isi dari peti ini," ungkap Vincent kepada Profesor Johnson dan Obalyn yang baru saja tiba bersamaan dengan Aluna.
"Tidak!.. kalian tidak boleh membawa peti itu keluar dari kastil!" tiba-tiba sesosok lelaki berjubah hitam datang dari ujung lorong pintu kastil.
"Siapa dia?. Pakaiannya aneh sekali."
"Hey, bukankah dia lelaki yang beberapa waktu lalu."
"Benarkah? Ahh iya. Dia lelaki yang menggangu kita membuka gerbang utama." ujar mereka yang berada di tim satu gerbang depan. Lelaki tersebut menghampiri kerumunan itu dengan membawa pisau kecil ditangannya.
"Hey mau apa kau?. Lalu kenapa dia membawa pisau ditangannya."
"Minggir kalian!" ujar lelaki berjubah hitam. "Aku harus menghancurkan sumber petaka itu sebelum kita semua menyesal nanti." Lelaki itu berlari dan mengacungkan pisaunya menuju keramaian.
"Ahh gila, dia menuju kemari. Cepat menghindar."
Para peserta ekspedisi lantas menjauh dari jangkauan lelaki yang membawa pisau itu. Namun sebelum lelaki itu mencapai tempat para anggota ekspedisi. Langkahnya terhalang oleh Shin yang menghadangnya sebelum sampai di antara mereka.
"Woahh Shin! yang benar saja. Dia mau melawan orang gila itu," ujar salah satu anggota ekspedisi.
"Kak Shin." Aluna sedikit cemas melihat Shin berhadapan dengan lelaki tak dikenal itu.
"Tenang saja, dia adalah senior kita dengan sabuk hitam. Tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ujar Vincent yang sedikit merasa lega Shin yang menghadapi lelaki tak dikenal itu.
"Kau...siapa kau?. Darimana kau dan apa tujuanmu mengganggu pekerjaan kami," tanya Shin pada lelaki yang ada di hadapannya.
"Minggir!" ujar lelaki itu. "Aku harus memusnahkan sumber masalah disini. Minggir aku bilang!" lelaki tersebut mencoba membuat Shin mundur dengan mengacungkan pisaunya. Perkelahian diantara mereka tidak bisa dihindari. Shin berhasil menangkis pisau tersebut. Akan tetapi lelaki yang dihadapinya rupanya seorang ahli beladiri juga. Mereka saling pukul dan melukai satu sama lainnya. Hingga di detik terakhir Shin berhasil melumpuhkan lelaki tersebut dikala dia lengah.
"Tidak, kau jangan mendekati peti itu!" ujar lelaki berjubah hitam yang perhatiannya teralihkan ketika Obalyn mendekati peti.
"Chance!" Shin mengambil kesempatan dari kelengahan lelaki itu dan berhasil melumpuhkan kedua tangannya dengan plintiran.
"Lepas brengsek, aku bilang jangan menyentuh peti itu!" (Melihat kearah Obalyn yang berada di dekat peti). Lelaki tersebut terus berkata demikian dikala ada seseorang yang mendekati peti. Dibantu rekan ekspedisi lainnya Shin mengikat tangan lelaki itu dengan tali. "Maaf kawan, tapi sebaiknya kau tidak menggangu pekerjaan kami." ujar Shin kepada lelaki tersebut.
"Jadi siapa kau, apa sebenarnya yang ada di dalam peti tersebut hingga kau ngotot sekali membuat keributan disini. Bila kau hanya berteriak tidak jelas, bagaimana kami bisa mengerti kawan?" ujar Shin kembali menatap ke arah mata lelaki tersebut.
Tap..tap tap, dikala Shin sedang mengintrograsi lelaki tersebut. Obalyn menghampiri mereka berdua. "Anak muda, kau tau apa yang ada didalamnya? Bisakah kau memberitahu kami mengapa tidak boleh membuka peti tersebut. Bila alasanmu jelas dan logis, ada kemungkinan kami mendengarkanmu dan tidak membuka peti itu." ujar Obalyn kepada lelaki berjubah hitam itu.
"Profesor? Apa yang anda katakan?" ujar Lorenzo yang terkaget mendengar perkataan Profesor Obalyn. Lantas Obalyn mengangkat tangannya mengisyaratkan pada Lorenzo untuk menghentikan ucapannya. Melihat Profesor Obalyn mengangkat telapak tangannya membuat Lorenzo terdiam sejenak. Obalyn tersenyum dan menganggukkan kepalanya dihadapan lelaki berjubah hitam itu agar dapat mempercayainya.
"Baiklah, akan aku beritahu. Tapi dengan satu syarat, kalian jangan pernah membuka peti terkutuk itu." ujar lelaki tersebut.
"Tentu, bila itu logis dan memang tidak boleh dibuka. Kami akan mencoba untuk tidak membukanya." ujar Obalyn berusaha meyakinkan lelaki yang berada dihadapannya.
"Namaku adalah Erik, aku bertugas menjaga kastil ini dari turun-temurun. Rumahku tak jauh dari keberadaan kastil ini."
"Jadi, kaulah orang yang mengubah peta keberadaan kastil azmut ini?" Shin memotong pembicaraannya.
"Ya, aku harus melakukan segala upaya agar kastil ini tidak diinjak oleh manusia."
"Kenapa begitu? Pasti ada alasannya kan. Sampai kau berbuat sampai seperti itu?" ujar Shin sedikit penasaran.
"Itu karena kastil Azmut ini sudah dikutuk."
"Dikutuk katamu, yang benar saja?" Vincent menyela karena tidak percaya akan kutukan.
"Kalian percaya atau tidak aku tidak peduli. Aku hanya menjalankan tugas dari leluhurku agar peti itu tetap ada di tempatnya. Selebihnya aku tidak peduli." ujar lelaki itu mengakhiri penjelasannya.
"Dikutuk yaa.. namun aku tak merasakan apapun di dalam peti itu. Kau pasti bergurau, hey anak muda. Jangan coba membodohi kami ya." ujar Falseek paranormal yang ikut bersama dengan mereka.
"Benarkah itu Falseek?. Kau tak mendeteksi sesuatu yang aneh di dalam peti itu?" tanya Johnson yang tiba-tiba bereaksi akan ucapan Falseek paranormal yang dia percayai.
"Aku tidak bohon. Peti itu menyimpan sesuatu yang terkutuk. Kalian jangan coba-coba untuk membuka bagian dalamnya." ungkap lelaki berjubah hitam.
Perdebatan yang semakin sengit diantara mereka. Namun perdebatan itu berhasil di tampik oleh argumen Profesor Lorenzo kala itu juga.
"Maaf saja anak muda. Kami ini tidak mempercayai hal yang tidak masuk akal. Lagipula, spiritual kami Falseek bilang tidak ada yang mencurigakan disana. Sebaiknya kau hentikan ocehan konyolmu dan jangan coba memanipulasi kami lagi." ujar Lorenzo saat itu juga.
Usai perdebatan itu akhirnya mereka membuktikan ucapan lelaki berjubah dengan membuka peti tersebut. Falseek sendiri yang membuktikan bahwa di peti tersebut tidak terdapat apapun didalamnya. Dia membuka peti tersebut dan tak ada apapun di dalamnya.
"Tidak mungkin, kosong? Bagaimana bisa?. Jadi selama ini...aku hanya menjaga peti yang tidak ada apapun di dalamnya?" Lelaki itu terkejut dengan kenyataan yang dilihatnya. Dia tersungkur dan syok kala itu juga. Begitu pula dengan Profesor Obalyn dan Profesor Johnson.
"Jadi, ini semua hanyalah lelucon kah?" Obalyn meninggalkan keramaian dan meninggalkan buku yang dia pegang tergeletak di lantai." Prof, Anda mau kemana?" Johnson mengikuti Obalyn berjalan dibelakangnya.
"Buku itu, kenapa dia membuangnya?" Aluna mengambil buku yang ditinggalkan oleh Profesor Obalyn.
***
Beberapa saat dikala keadaan sudah sedikit tenang. Profesor Johnson memberikan instruksi terakhirnya sebagai ketua tim ekspedisi.
"Terima kasih atas partisipasi kalian semua selama beberapa hari ini. Kalian adalah para calon peneliti masa depan yang luar biasa yang berjasa membantu ekspedisi di hutan Well ini. Bersamaan dengan telah ditemukannya lokasi kastil Azmut yang membuktikan bahwa kerja keras kita membuahkan hasil. Untuk penelitian lebih lanjut akan di bicarakan pada proyek selanjutnya. Kemudian bersamaan dengan ini saya sebagai ketua tim Ekspedisi Greenly. Kegiatan ekspedisi hutan Well resmi ditutup."
Johnson menutup kegiatan ekspedisi sore harinya. Setelah penutupan mereka seraya berkemas meninggalkan posko penginapan mereka. Sebelum meninggalkan hutan, Johnson sempat menemui Erik penjaga Kastil Azmut.
Toktoktok...
"Kau.. buat apa kau datang kemari?" ujar Erik ketika membuka pintu rumahnya.
Johnson tersenyum kepada Erik seraya melangkah ke dalam rumahnya.
"Tidakkah... kau kesepian sendiri disini?" ujar Johnson melihat-lihat sekeliling rumah Erik.
"Apa maksud perkataanmu? Langsung saja apa tujuanmu datang kemari!" ungkap Erikk yang langsung berdiri kembali dari posisinya terduduk.
"Pemuda yang tidak sabaran sekali." Johnson melihat wajah Erik dari dekat. "Bukankah, kau lebih baik meninggalkan tempat ini Erik. Kau sendiri melihat tadi siang bahwa peti yang selama ini kau jaga ternyata kosong. Lalu, untuk apa kau masih harus tinggal di tengah hutan menjaga kastil tersebut." ungkap Johnson pada Erik lagi.
"Tidak ada hubungannya denganmu paman. Ini adalah hidupku, terserah aku mau tinggal dimana aku mau." balas Erik yang tak mau diberitah.
"Kau pemuda yang kerasa kepala rupanya ya. Aku menyukai tipe pemuda seperti kalian. Sama seperti diriku dulu. Bila boleh dikata, sesungguhnya aku sedikit kecewa dengan hasil temuanku kali ini. Aku kira teoriku benar tentang peninggalan batu bertuah itu. Namun ternyata itu semua hanyalah omong kosong."
"Batu bertuah? dari mana kau tau tentang itu?" Erik lantas sedikit tertarik dengan yang dibicarakan oleh Johnson.
"Ahm, rupanya kau juga tahu sesuatu mengenai batu bertuah itu. Itu artinya teoriku 50:50 antara benar dan hanya hipotesis saja. Namun yang membuatku bingung adalah... Amh peti tersebut ternyata kosong. Yah apa boleh buat."
"Hey paman, kau tau dari mana tentang batu bertuah itu?" tanya Erik pada Johnson sedikit kasar dengan menarik kerahnya.
"Mengenai itu... (Mencoba melepaskan tangan Erik dengan sedikit mendorongnya kebelakang dan menempelkan kertas yang berisi kartu namanya tersebut) Yah, pokoknya kau bisa menghubungiku di nomer tersebut. Aku harap kita bertemu kembali." Johnson lantas meninggalkan kediaman Erik setelah berbicara dengannya.
Mobil-mobil yang sedang menunggu keberangkatan telah terparkir di depan posko penginapan. Aluna dan yang lainnya sudah berada di mobil Van untuk para peserta Ekspedisi Greenly. Tak lama kemudian Profesor Johnson muncul dari arah hutan menuju mobil pribadi yang dia akan naiki. Satu-persatu dari mereka meninggalkan posko penginapan tersebut. Mereka berangkat menuju hotel tempat pertama mereka berkumpul sebelum berangkat ke hutan Wells.
Hotel Welliam's
"Arghh, lelahnya.. akhirnya aku bisa tidur di kasur yang empuk setelah beberapa hari berada di hutan belantara." Aluna menaruh tasnya dan mulai merebahkan tubuhnya.
....
....
"Woahh, kita sekamar rupanya." ujar Shin.
"Yahh, tidak aku sangka bisa berbagi kamar dengan senior Shin," balas Vincent.
"Ahh lebay Luh."Berjalan menuju Sofa panjang yang terlihat empuk di pojokan.
"Hahaha, Tidak pantas kah?" ujar Vincent seikit tertawa.
"Tentu saja, kau ini tidak cocok bercanda seperti itu tau. Wajah dan ucapanmu jauh sekali perbedaannya. Jadi tolong hentikan oke." Merebahkan tubuhnya di Sofa dan menikmati waktu istirahatnya sejenak.
"Am oke. Ahhhhh, nyamannya. Tidak terasa ekspedisinya sudah berakhir saja ya." ungkap Vincent sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kau benar, tidak terasa seminggu kita di hutan dan kini sudah selesai." balas Shin sembari melepaskan atribut yang masih menempel di tubuhnya.
"Tidakkah kau merasa ekspedisinya terlalu monoton senior?" tanya Vincent terduduk dari posisinya rebahan.
"Monoton?. Maksudmu kurang menegangkan Apa bagaimana?" ujar Shin meluruskan pembicaraan mereka yang juga mulai dalam posisi terduduk di Sofa.
"Yahh, aku tidak tau benar apa tidak pemikiranku ini. Namun bagiku, ekspedisi ini sedikit aneh dan mengganjal. Serasa ada yang kurang saja begitu. Lagipula kita tidak diizinkan melihat-lihat lebih jauh kastil dan mendokumentasikannya. Hanya para peneliti senior yang diperbolehkan meneliti tentang kastil itu. Bukankah itu sedikit tidak adil, terlebih lagi kita sudah membantu mereka sampai sejauh itu. Yah meskipun bagian yang menariknya tidak terbukti ada." ungkap Vincent yang mengeluarkan unek-uneknya kepada Shin.
"Kau ini, ternyata masih tidak puas ya."
"Salahkah?"
"Tidak... itu normal menurutku," Shin tersenyum. "Sudahlah, aku mau mandi terlebih dahulu. Sebentar lagi kita ada pertemuan untuk makan malam bersama bukan?"
Shin Jong menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Vincent masih memikirkan kejadian tadi siang di kastil.
Aneh sekali, apa aku emang salah lihat. Aku rasa, peti di dalam ruangan itu ada lebih dari satu. Tapi.. kenapa yang ada hanya satu yang mereka bawa. Selain itu.. kutukan apa yang membuat dia sampai seperti itu yah. Dalam lamunannya Vincent masih merasa janggal dengan kejadian di kastil. Namun karena dia tidak terlalu tertarik dengan hal yang mistis. Dia abaikan kejanggalan yang dia ketahui itu.
35 Menit setelah Shin masuk kamar mandi dan sudah melakukan beberapa aktivitas lainnya sementara Vincent masih saja rebahan.
"Kau masih tiduran saja, cepat mandi dan ganti baju. Sekarang sudah hampir jam 19.00 waktu untuk kita turun makan malam tau.", ujar shin melihat Vincent yang masih rebahan di kasur saat dia baru keluar dari kamar mandi.
"Ahh iya, aku mandi sekarang juga. Bukannya senior yang lama sekali di kamar mandi?" ujar vincent dari lamunannya kala itu.
•••
Di sisi lain di tengah hutan tempat ekspedisi. Erik yang memikirkan ucapan Johnson untuk meninggalkan hutan dan memulai hidup baru. Tampaknya dia putuskan untuk kembali ke kastil lagi untuk terakhir kalinya. Namun dari kejauhan dia melihat fenomena yang tidak biasa disana.
"Apa itu?. Bukankah tadi sore orang-orang sudah meninggalkan lokasi hutan ini?" ujar Erik melihat aktifitas beberapa orang keluar dari kastil. Dia lantas mengikuti orang-orang tersebut. "Apa!.. Apa itu. Peti? dan juga ada tiga peti dengan beberapa tanda di atasnya. Jangan-jangan itu adalah peti yang seharusnya tidak boleh meninggalkan kastil! Celaka, kenapa aku bisa kecolongan dan dibodohi begitu mudahnya," ungkap Erik dalam benaknya ketika melihat orang-orang yang memasukan peti kedalam mobil box.
"Hei, apa yang sudah kalian lakukan!" Seru Erik. "Cepat kembalikan peti-peti itu ketempat semula!" Erik keluar dari balik pohon besar dimana dia bersembunyi. Dia mencoba mencegah peti-peti tersebut dibawa keluar dari areal kastil.
"Urus dia sekarang juga!" ujar lelaki yang memakai masker memasuki mobil dan menyalakan mesin.
"Berhenti kau!.. aaaahh...kurang ajar.. ber..hen..ti. aku.. mo..hon.". Erik pingsan ketika menerima pukulan dari seseorang yang bertubuh besar di belakangnya.
•••
Di hotel Welliam's semua tim ekspedisi sedang menikmati waktu makan malam bersama mereka. Tiba-tiba lampu hotel mati dan membuat seisi pengunjung panik untuk sementara.
"Kepada para pengunjung diharap tenang. Kami sedang mempersiapkan tenaga listrik cadangan. Jadi mohon jangan tinggalkan tempat kalian berada saat ini karena dikhawatirkan terjadi suatu hal yang tidak diingnkan." ujar manager hotel Welliam's memberika intruksi kepada pada pengunjung yang mulai panik.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala. Namun diluar tampaknya menunjukan cuaca yang tidak biasa. Tiba-tiba hujan turun disertai guntur. Pohon-pohon disekitar hotel bahkan sampai ada yang tumbang hingga terbakar. Para pegawai tampak sibuk menangani hal yang tak terduga tersebut. Demi keamanan dan kenyamanan para pengunjung yang datang. Petugas hotel menyerukan agar memasuki ruangan mereka masing-masing. Para pengunjung hotel akhirnya kembali ke ruangannya masing-masing.
"Ada apa ini? Ntah mengapa perasaanku tidak enak." ungkap Aluna yang berjalan bersama Paula teman satu kamarnya.
***
BAB 3. AZIMUT KASTIL
FOREST
"Tempat ini berada di pinggir hutan yang merupakan posko penginapan kita. Mulai saat ini kita akan bagi tim berdasarkan tugas pada posisinya masing-masing."
***
Beberapa saat setelah pengumuman dari pimpinan tim ekspedisi tersebut. Semua tim menyiapkan peralatan mereka masing-masing untuk memulai pencarian benda bersejarah yang berada di tengah hutan. Tim penjelajah terdiri dari 24 orang yang mana terdiri dari 3 orang menjadi 8 tim ekspedisi. Vincent mendapatkan tugas berjaga di posko pengungsian. Sedangkan Aluna dan Shin Jong mendapat tugas menjadi tim penjelajah.
"Luna, kau percaya dengan sesuatu yang di luar akal sehat?" tanya Shin kepada Aluna yang kebetulan berada dalam satu tim. Dia bicara dengan suara pelan melihat kearah sekeliling.
"Percaya tak percaya sih. Lalu kenapa kak Shin tanya seperti itu padaku ?" tanyanya kembali berbisik.
"Ntahlah, aku sedikit gugup mengikuti ekspedisi tahun ini. Rasanya ekspedisi ini sedikit janggal untukku," bisiknya kembali.
Benar kata kak Shin. Ekspedisi ini janggal sekali. Kami bahkan tak boleh melihat isi peti yang nanti kami temukan. Ditambah lagi, mengapa ada dukun yang ikut dalam ekspedisi?. Imbuh Aluna dalam hatinya setelah pembicaraan mereka.
***
Beberapa waktu lalu di hotel sebelum memasuki kawasan hutan.
"Perkenalkan, dia adalah Tuan Falseek. Dia adalah paranormal yang biasa menangani hal yang tidak biasa di sekitar hutan. Kami memanggil beliau hanya untuk berjaga-jaga saja," ujar Johnson penangung jawab Ekspedisi Greenly.
Paranormal? Kenapa tidak mengajak pendeta atau ustadz saja sekalian?. Yahh, apa mereka semua itu sama saja apa ya?. Wahh, rupanya sebagian dari para senior peneliti ini adalah orang-orang beriman yah, tutur Vincent dalam benaknya sedikit menyeringai menganggap pemikiran mereka konyol.
Tak hanya Vincent, rupanya Aluna dan Shin Jong juga berpikiran sama dengan dirinya. Namun mereka tak menaruh curiga apapun dengan kehadiran paranormal di sekitar mereka. Sampai kedatangan mereka di Well forest tiba.
***
Gakkk..gakkk..gakkk..
Tiba-tiba terdengar suara gagak yang terbang melintas di atas perjalanan mereka.
"Hey, tidakkah semakin kedalam hutan. Rasanya semakin gelap dan dingin disini?" ujar Danielle teman satu tim Luna dan Shin.
Sejenak mereka melihat kearah atas pepohonan dan menelan ludah mereka masing-masing dengan keringat dingin tanpa sebab. "Ayo kita lanjutkan perjalanan," ujar Shin kembali memimpin jalannya penjelajahan mereka.
Danger!!! Dilarang lewat.
Setelah satu jam perjalanan. Terlihat papan bertuliskan bahaya bila melintas. Lantas Shin Jong melihat peta yang dibawanya. "Aneh, kenapa peta ini mengarah ke daerah berpapan nama itu ya?" Imbuhnya kebingungan dengan petunjuk yang ada di peta dan jalan yang mereka tempuh.
"Kembali saja kah? Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?. Jelas-jelas kita tidak bisa melewati batas yang diperingatkan," ujar Luna.
"Kau benar, terlalu beresiko kita masuk kedalam hutan. Lagipula kenapa tim kita hanya terdiri dari tiga orang saja sih?", ungkap Daniel yang mulai cemas.
Shin Jong akhirnya mengeluarkan alat komunikasi yang dia bawa. "Test..test.. disini tim tiga. Kami dalam kesulitan menuju lokasi, terdapat papan peringatan di area sekitar jalan yang kami tuju. Perlukah kami kembali untuk meninjau kembali peta tempat lokasi tersebut," ujar Shin menggunakan alat komunikasi mereka.
"Disini tim satu, benarkah itu?" tanya ketua regu tim satu yang didalamnya ada Profesor Johnson.
"Iya pak benar sekali".
"Baiklah, tim kalian segera kembali ke posko. Kami juga mendapatkan masalah dengan peta yang kami bawa. Segera kembali ke posko," ujar ketua tim satu kembali.
"Baik pak laksanaka," ungkap Shin.
POSKO PENGINAPAN
"Bagaimana penjelajahannya, apakah berjalan dengan baik senior?" tanya Vincent pada Shin sembari memberikan sebotol minuman untuknya.
"Ahh terima kasih ( Menerima botol minuman dari Vincent). Yah, begitulah. Ada masalah sedikit mengenai peta lokasi. Kami tak bisa melanjutkan perjalanan kami karenanya. Tapi aku sudah menghubungi Profesor John. Dia bilang akan kembali sebentar lagi," ujar Shin.
"Begitukah?. Sayang sekali aku tidak kebagian menjelajah. Aku harap bisa ikut pergi kesana," ujar Vincent mengeluh pada Shin.
"Tenang saja, besok kau pasti kebagian. Lagipula hari ini hanya meninjau lokasi dan peta apakah benar atau tidak. Sepertinya besok akan ada perubahan bila tidak berjalan sesuai rencana." Shin lantas membantu Vincent membagikan minuman kepada mereka yang baru saja datang dari meninjau peta lokasi.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Shin. Keesokan harinya semua orang ikut dilibatkan dalam ekspedisi. Vincent mendapatkan bagian dalam tim jelajah bersama Shin dan Aluna. Mereka didampingi dengan tim senior dua orang yaitu Profesor Lorenzo dan Marina.
Setelah semalam meninjau peta yang mengarah menuju situs kuno terdahulu. Sang ahli sejarah dan Meteorologi Mr. Kenzo berhasil memecahkan peta dibantu ahli bahasa kuno Prof. Obalyn.
Sudah aku duga. Dari keenam rute dipeta ini. Semuanya menuju arah bahaya dimana ada papan peringatan diantaranya. Lihat saat kita menyatukan ke enam peta sekaligus. Ada garis hijau yang samar-samar terlihat menuju titik ditengah. Ada kemungkinan titik ditengah itu adalah situs kastil yang kita cari. Besok kita akan bagi enam kelompok menyusuri enam jalur hijau yang menuju titik tersebut, ungkap Kenzo kepada rekan-rekannya setelah meninjau peta dan sejarah hutan Wells tadi malam.
Tim Shin terdiri dari : profesor Lorenzo dan Mariana serta didalamnya ada Shin, Vincent, Aluna dan Daniel. Mereka mendapatkan rute enam dimana jalur masuk belakang yang berada jauh dari posko penginapan. Lantas mereka berenam berangkat pagi-pagi sekali menggunakan Jeep yang sudah disediakan untuk menuju jalur masuk yang dituju.
Kira-kira satu jam perjalanan menggunakan Jeep. Mereka sampai pada titik yang ditunjukan oleh peta. Samar-samar namun tampak jalur jalan yang bisa dilewati oleh pejalan kaki. Mereka berjalan menuju lokasi ketika Jeep tak bisa masuk lebih jauh. Matahari sudah bersinar terik diatas mereka. Rasa lelah dan haus tak terkira menerpa tubuh keenam penjelajah itu. Mereka memutuskan beristirahat sejenak sebelum memutuskan dalam meneruskan perjalanan mereka.
"Prof, persediaan air kita hanya sedikit. Aku akan mencari sumber air terdekat untuk mengisi ulang botol kita dahulu di sungai sana," ujar Shin.
"Begitukah, Daniel kau ikut bersama shin. Bawa juga alat pendeteksi kadar air dan racun ini. Kalian hati-hati dan cepatlah kembali", ujar profesor Lorenzo.
Sementara shin dan daniel pergi mengambil air. Mereka berempat mendiskusikan seberapa jauh lagi untuk sampai ke situs tersebut. Hingga Shin dan Daniel kembali. Mereka melanjutkan perjalanan setelahnya.
"Wahh, luar biasa pintu gerbang yang menakjubkan," ungkap Profesor Mariana terkagum melihat pintu gerbang yang ada di depannya itu.
"Wahh, hebat.. inikah situs itu?" Ungkap Shin dan yang lainnya.
Kemudian profesor mulai mengeluarkan peralatannya dan mulai menganalisis perjalanan mereka. Setelah selesai menandai di peta. Lalu dia mulai gambar dan mendokumentasikannya.
"John, apakah kau sudah berada di depan gerbang kastil depan?" tanya Lorenzo kepada Profesor Johnson melalui alat komunikasi yang dipegangnya.
"Yah, aku sudah tepat di depan gerbang masuk. Profesor Obalyn sedang melihat pola sandi reruntuhan di pintu gerbang. Bisakah kau periksa beberapa tanda di halaman tengah Enzo," ujar Johnson.
"Baiklah, aku akan minta seseorang di timku untuk membantu memecahkannya," balas Lorenzo menutup komunikasi mereka.
Lalu, beberapa saat kemudian setelah kedatangan keenam tim ekspedisi di depan gerbang situs. Muncullah seorang lelaki dengan jubah hitam menghampiri mereka.
"Sebaiknya, demi kebaikan kalian. Jangan coba membuka pintu gerbang atau mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Kalian tak akan pernah tau apa yang akan terjadinya setelahnya," ujar lelaki berjubah hitam tersebut yang muncul di hadapan tim satu pintu utama gerbang.
Namun ucapan lelaki tersebut tidak di hiraukan oleh orang-orang yang sudah kegirangan tersebut.
"Yess, akhirnya kita menemukan kastil peninggalan terdahulu," ujar salah satu peserta ekspedisi tersebut.
Sementara itu di pintu gerbang belakang...
"Aluna, kau bisa bantu kami memecahkan bahasa loma ini?" ungkap Profesor Lorenzo setelah berbicara melalui alat komunikasi dengan prof Johnson di tim satu gerbang pertama.
Setelah itu, Aluna membantu salah satu Profesor meletakan beberapa batu agar sesuai seperti buku kuno yang dipegang Profesor Mariana.
Treddd.....dredddd...
...Hi Ra Ke ...
Pintu tersebut terbuka dikala Aluna menyusun huruf bahasa daerah disekitar hutan Wells.
"Wahh, keren kau aluna!" Ungkap Daniel terkagum melihat kebolehan teman setimnya tersebut.
"Boleh juga anak itu," ujar Vincent setelahnya yang juga sedikit terkagum olehnya.
"Kerja bagus Luna," ujar Shin menunjukan jempol kanannya pada Aluna. Lantas Aluna kembali membalas mereka dengan tersenyum dan memberikan dua jempol.
Pintu gerbang pertama berhasil dibuka oleh Prof Obalyn. Begitu pula dengan gerbang belakang berhasil dibuka berkat Aluna dan Profesor Mariana. Setelah pintu gerbang terbuka di depan mereka. Secara otomatis pintu di empat gerbang tempat lainnya ikut terbuka.
"Siall, kenapa manusia sekarang bisa mengerti bahasa terdahulu!" ujar lelaki berjubah hitam dalam benaknya.
Disaat tim satu hendak memasuki situs kuno reruntuhan kerajaan tersebut. "Prof, orang dibelakang tadi sudah tidak ada," ungkap seseorang melihat ke arah belakang tempat lelaki berjubah hitam berdiri.
"Benarkah?. Aneh sekali. Buat apa dia kemari bila akhirnya pergi juga," ujar Johnson sedikit merasa bingung melihat kearah belakang sebelum melanjutkan langkahnya.
Tanpa menunggu lama ke enam tim ekspedisi memasuki gerbang pintu secara bersamaan. Mereka bertemu ketika memasuki gerbang tersebut.
"Lorenzo, akhirnya kita berhasil," ungkap Johnson menepuk pundak Lorenzo ketika bertemu di dalam kastil.
"Tidak aku sangka, kastil ini begitu besar hingga mencakup hampir 1/8 dari hutan. Tapi anehnya, kenapa susah sekali menemukan lokasi pastinya ya?" Lorenzo masih tampak bingung.
"Kau benar, lagipula. Siapa yang merubah jejak di peta. Awal penjelajahan kita dibingungkan dengan digiring ke area berbahaya pula," balas Johnson yang mulai kepikiran.
"Wahhh, inikah kastil peninggalan bangsawan azmut?. Besar dan megah sama seperti yang ada di buku sejarah," Aluna terkagum-kagum bukan main melihat semua yang ada di dalam gerbang tersebut.
Disaat aluna sedang menikmati apa yang dia lihat tersebut dengan beberapa catatannya. Johnson dan Obalyn menghampirinya untuk bicara beberapa hal penting.
"Kau yang bernama aluna?" tanya Obalyn menyapa Aluna.
"Aku dengar kau dari keluarga Hoppes, bisa kita bicara sebentar diluar," ujarnya kembali sembari menuju luar kastil.
"Keluarga Hoppes? Pantas saja dia bisa membaca bahasa kuno. Itu menjelaskan betapa berbedanya dia dengan semua mahasiswa dari kelasnya dahulu," ungkap Vincent melirik ke arah Aluna yang berjalan ke arah luar bersama Profesor Obalyn dan Profesor John.
••••••
Sekilas Info
Keluarga Vincent adalah salah satu keluarga bangsawan yang menjadi salah satu penyumbang ilmu pengetahuan di England. Mereka turun-temurun menjadi seorang ilmuan yang ahli dalam ilmu fisika.
Sedangkan keluarga Hoppes adalah salah satu keluarga bangsawan yang dari turun-temurun bergelut di bidang arkeolog dan ahli bahasa serta sejarah. Namun seiring berjalannya waktu nampaknya keluarga Hoppes kesulitan untuk mendapatkan keturunan yang sesuai dengan ekspektasi mereka. Menurunnya kualitas di keluarga Hoppes sempat menurunkan image keluarga mereka di kalangan semua keluarga bangsawan peneliti. Hingga akhirnya nama keluarga Hoppes tidak diperhitungkan lagi di dunia ilmuan.
Namun kini, kemunculan Aluna yang menyandang nama Hoppes mulai menarik kembali mata ilmuan di England. Setelah beberapa waktu lalu tes ekspedisi tertulis di Well University. Ketua tim sendiri meminta kepada anggotanya untuk menyelidiki latar belakang Aluna. Rupanya Aluna adalah anak dari Ronald Wisman Hoppes seorang sarjana arkeolog dan Alkitab teman seangkatan Profesor Obalyn di London University. Namun karena ibu dari Aluna yang berasal dari kalangan biasa dia tidak tinggal di rumah utama di London. Ronald dan istrinya Maria tinggal di Well berada jauh dari keluarga Hoppes. Namun setelah Aluna beranjak 10 tahun ibunya meninggal dunia karena penyakit jantung. Dikarenakan kesibukan ayahnya, Aluna di titipkan kepada pamannya William Boot Hoppes yang memiliki toko kue di ujung jalan dekat Universitas Well. Tanpa sepengetahuan ayahnya Ronald, Aluna mengikuti ekspedisi untuk sedikit mengurangi biaya kuliah. Dan tanpa sepengetahuan Aluna, ternyata Obalyn adalah teman ayahnya ketika kuliah di London University dulu.
***
"Sudah kuduga, tak banyak mahasiswa yang tertarik membaca bahasa kuno di zaman ini. Rupanya darahnya mengalir padamu," ujar Obalyn pada Aluna.
"Apa maksud dari perkataannya?" Imbuh Aluna dalam hatinya. Dia masih terdiam mendengar ucapan Profesor Obalyn di hadapannya.
"Apakah Ronald tau kau mengikuti ekspedisi ini?" tanya Obalyn pada Aluna.
"Kau kenal ayahku?"ujar Aluna sedikit bingung kenapa dia tahu nama ayahnya.
"Rupanya dia anak tuan Ronald. Pantas saja aku seperti tak asing dengannya. Rupanya dia anak kecil itu," ungkap Johnson seikit tersenyum ketika mengetahui identitas Aluna.
"Tentu saja, dia adalah teman baikku. Kami kuliah di tempat yang sama dulu. Aku bahkan belajar bahasa kuno dari ayahmu Ronald," ujar Obalyn.
"Benarkah? Tidak aku sangka ayah punya kenalan orang sehebat anda profesor," ujar Aluna sedikit terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Ahh apakah kau bisa membaca isi tanda peringatan di halaman akhir ini?" ujar Obalyn kembali sembari menunjukan buku kuno yang menuliskan sejarah kastil tempat mereka berada.
Aluna melihat buku tersebut dan mulai mencoba membaca tiap simbol yang ada di tulisan kuno tersebut.
AZIMUTH CASTLE BOOKS
Di halaman belakang tertulis sebuah peringatan mengenai kastil Azmut. Ketika enam segel terbuka peringatan awal bencana akan datang. Pintu hitam yang terkunci menampakan celah bersamaan keserakahan pada diri manusia. Batu merah pemakan jiwa mulai menggoda dan menggerogoti jiwa yang sudah lama kelaparan. Kegelapan hati manusia memakan jiwa dan raga mereka hingga tak berupa kembali hidup di kegelapan tanpa terik matahari.
Glek.. luna menelan ludahnya setelah mengartikan tulisan kuno di halaman terakhir.
"Kau sudah selesai Aluna?. Luar biasa, biar aku lihat isi dari halaman terakhir itu," ujar Obalyn yang terlihat bersemangat ingin membaca isi halaman terjemahan tersebut.
Lantas dia mengambil kertas di tangan Aluna dan membacanya. Obalyn sedikit terkejut dengan isi yang ada di halaman terakhir. Sampai dia menjatuhkan kertas tersebut. "Ada apa Prof? Apa yang tertulis didalamnya?" ujar Profesor Johnson yang penasaran. Dia ambil lembaran kertas itu kemudian membaca isinya.
"Tidakkah ini peringatan," ujar Johnson yang sedikit bergemetar setelah membaca arti dari halaman terakhir.
BAGIAN DALAM KASTIL
Sementara itu, di ruang tengah kastil. Vincent dan Shin Jong tampak sedang mengamati beberapa peninggalan bangsawan Azmut. Tanpa sengaja Vincent menekan tembok yang membuka pintu menuju ruang rahasia.
"Wahh, tidakkah ini asli?" ujar Vincent yang melihat-lihat lukisan di dinding . Gredddddd...suara pintu otomatis terbuka. Vincent dan Shin terkejut dengan apa yang mereka temukan itu.
"Hey Vint apa itu?" tanya Shin menepuk pundak Vincent dengan mata terbelalak.
"Woh, fantastis. Ruang apa ini?" Vincent menengok ke arah belakangnya dimana pintu rahasia terbuka.
Mereka berdua menundukan kepalanya seraya berjalan masuk ruangan yang baru saja terbuka dihadapannya.
"Wahh, tidakkah disini sangat gelap," Ujar Shin yang belum terbiasa dengan kegelapan begitu menginjakan kaki pertama kali di lorong yang mereka temukan itu.
"Kau benar, tunggu (Vincent merogok saku celananya) aku rasa baterai di handphoneku masih ada untuk penerang dikala begini." Lantas dia menyalakan senter dari handponenya tersebut.
"Ahh, aku lupa bahwa kita punya handphone." Lantas Shin Jong mengeluarkan handphone miliknya dari sakunya dan mulai menerangi jalan di depan mereka.
Menggunakan senter handphone sebagai penerangan Vincent dan Shin meneruskan perjalanan mereka. Disisi lain Johnson dan Obalyn masih memperdebatkan isi dari halaman terakhir yang diterjemahkan oleh aluna.
"Berdasarkan halaman tersebut. Bukankah kita tidak seharusnya mencari batu permata itu?. Bila memang terdapat kutukan di dalamnya, maka kita semua akan dalam bahaya nanti. Bukankah begitu Prof?" ujar profesor Johnson yang sedikit cemas setelah membaca halaman terakhir dari buku Azmut Kastil.
"Apa kau sudah gila?. Kita sudah menghabiskan waktu dan tenaga hingga sampai disini. Kau itu tidak malu sebagai ilmuan?. Ini tahun berapa Johnson?. Kau masih percaya takhayul. Lagipula aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang tidak bisa dibuktikan dengan logika dan perhitungan ilmiah!" ujar Obalyn yang tidak menghiraukan ucapan Johnson.
"Profesor.. Profesor Obalyn...". Johnson mengejar Obalyn yang meninggalkannya dan Aluna di pintu masuk kastil.
Haah.. aku.. aku.. entah mengapa firasatku sedikit buruk. Meski aku tidak percaya dengan tahayul. Namun peringatan di halaman terakhir itu sangat menakutkan buatku. Namun.. benar kata profesor Obalyn. Kita sudah menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk sampai di tempat ini.
Aluna lantas mengikuti kedua profesor yang sudah berjalan memasuki kastil terlebih dahulu.
***
BAB 2. ONLY THREE
Modul psikologi, sejarah kota well, sejarah England, buku sastra 5 bahasa, modul sansekerta, buku spiritual, buku ensiklopedia Terupdate, Buku sosial, buku sains update dan buku lainnya menumpuk di meja aluna saat ini. Dia tertidur dengan tumpukan buku menemaninya malam itu.
...
"Hoamm." (Aluna menguap berjalan menuju gerbang kampus).
"Hoy, masih ngantuk aja Luh," sapa Renata merangkul pundaknya.
"Ahh, kau.. hoam," Aluna kembali menutup mulutnya yang menguap.
"Gimana persiapannya? Udah siap ikutan tes hari ini?" tanya Renata melirik buku yang dibawa oleh aluna di tas jinjingnya.
"Amm, tentu. Gue siap kapanpun."( Menengok kearah Renata dan tiba-tiba aluna bersemangat kembali). Dia berjalan tegap menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang sempat dia pinjam.
***
Siang harinya di ruang auditorium kampus.
Terdapat 500 mahasiswa/i mengikuti ujian tertulis seleksi Ekspedisi Greenly.
Aluna mengerjakan soal-soal tersebut satu persatu hingga batas waktu yang ditentukan habis.
Hasil dari test hati ini akan diumumkan besok pagi bersamaan dengan wawancara bagi yang lolos tes tertulis.
"Huhh, bisa.. aku pasti bisa. Aku sudah belajar beberapa hari yang lalu. Lagipula pengetahuan umumku juga tidak terlalu buruk. Semoga aku lolos esok." Aluna keluar dari auditorium setelah menyerahkan lembar soal yang telah selesai dia isi.
***
Keesokan paginya, aluna bermaksud datang pagi-pagi sekali hanya untuk melihat pengumuman di mading. "Wow, dahsyatnya." Aluna terkejut melihat orang-orang berkerumun di depan Mading kala itu. Hmm, ternyata bukan hanya aku saja yang berpikir demikian, ungkapnya dalam hati.
Aluna berusaha menerobos melihat-lihat nomor urut ujian miliknya di mading.
Peserta yang lolos ujian tertulis:
1. Vincent david Lee
2. Edgard George Enhel
3. Siska Velove Raineer
4. Shin Jong Ebert Karl
5. Maria Aluna Mark Hoppes
"Wahh, yahhh, wahhh, astaga ini namaku!" Aluna terkejut namanya berada di papan pengumuman mahasiswa yang lolos seleksi tertulis.
"Whahaha aku lolos.. aku lolossssss," lantas Aluna melakukan Uforia ketika mengetahui dirinya lolos seleksi pertama. Semua mata tertuju padanya dengan kelakuan konyol Aluna saat itu. "Hemm, aku harus segera ke ruang wawancara," Aluna melirik kearah kanan dan kiri tampak tatapan orang-orang melihat kearahnya. Dia merapihkan kembali baju dan tasnya yang sedikit berantakan karena Uforianya tadi. Dia langkahkan kakinya menuju tempat wawancara tersebut diadakan.
Ruang 1.1.1 interview room
"Permisi," Aluna mengetuk pintu dan dilihatnya 4 orang yang sudah terduduk di kursi mereka masing-masing. Salah satu diantaranya adalah Shin Jong kakak kelas yang dia temui beberapa waktu lalu.
"Hey kau, kemari." ujar Shin mengangkat tangannya kearah Aluna yang baru memasuki ruangan.
"Kau mengenalnya?" ujar Siska teman satu kelas Shin.
"Yah begitulah, dia junior kita dari kelas biologi D," ujar Shin pada Siska.
"What? Biologi D yang benar?. Bahkan aku dengar anak kelas A hanya ada satu saja yang lolos. Fantastis juga ini cewek." Ungkap Siska terkagum mendengar penjelasan Shin.
Lantas Aluna terduduk diantara Siska dan Shin. Sementara itu David yang merupakan satu-satunya yang lolos dari kelas A tampak mulai melihat kearah Aluna. "Wah, rupanya ada juga mahasiswi yang menarik diangkatanku. Bagaimana bisa dia masuk kelas D?. Bila dia dapat lolos seleksi tertulis ini, itu artinya dia juga merupakan salah satu mahasiswi genius diangkatan kami", ungkapnya dalam benaknya ketika melihat Aluna.
"Kau kenal dia?" tanya Edgard pada David.
"Ntah, aku baru melihatnya," ujar David yang merasa aneh melihat Aluna.
"Ahh, kok bisa. Dia angkatanmu kan?" ujar Edgard.
"Iyah sih, tapi karena dia dari kelas D. Aku mana kenal dia. Lagipula, itu adalah kelas untuk orang-orang biasa. Jadi, mana aku memperhatikan ada dia diangkatanku atau tidak," ungkap David pelan.
"Ahh, kau benar. Rata-rata disini yang lolos kelas A dan B semua. Siapa yang sangka, bakal akan ada kelas D duduk diantara kita," pungkas Edgard.
Beberapa saat kemudian tiga eksekutif dari tim seleksi memasuki ruangan ditemani dua dosen senior.
"Selamat pagi semuanya?"
"Pagi"
"Hari ini kami yang ditugaskan untuk melakukan wawancara. Perkenalkan nama saya Johnson. dua rekan saya yang lain yaitu Rihana dan Lilbert. Baiklah mari kita mulai wawancara kita di pagi ini."
***
Wawancara dilakukan kurang lebih selama dua jam. Peserta diminta keluar sebentar untuk melakukan wawancara satu persatu. Nama pertama yang dipanggil adalah Vincent David Lee. Dia dipanggil berdasarkan hasil nomor urut ujian.
"Wahh, sepertinya aku mengenal dia?" ungkap Aluna melihat kearah David yang memasuki ruangan.
Melihat Aluna yang menatap David saat memasuki ruangan. Lantas Edgar menghampiri Aluna. "Hallo, gua Edgar . Anak semester 3 dari biologi B", ujar Edgar memperkenalkan diri.
"Ahh.. halo juga kak Edgard," sapa balik Aluna menyambut uluran tangannya.
" Yahh, perasaan gue gak ingat pernah ngospek elu deh. Padahal ingatan gue yang paling bagus di kelas", ungkapnya pada Aluna.
"Ahahaha, mungkin karena auraku yang lemah kali yah," ujar Aluna kala itu sedikit tertawa kecil dan agak tidak nyaman dikarenakan Edgar terlalu dekat dengan dirinya.
"Benarkah? Apa iya yah," ujar Edgard yang masih tampak tak percaya.
Yah, tentu dia tak tau aku. Karena aku tak mengikuti ospek mahasiswa terlebih dahulu. Karena saat itu aku sedang sakit. Sampai akhirnya aku sembuh dikala kuliah pertama dimulai. Bahkan teman-temanku sendiri tak percaya aku ini adalah teman satu kelasnya. Apa mungkin.. emang auraku lemah kah?.Imbuh Aluna dalam hatinya sembari tersenyum pula kepada yang lainnya yang tampak melihat kearah mereka berdua.
Semua sudah memasuki ruang wawancara. Terakhir Aluna dipersilahkan masuk dengan mantap dia tetapkan hatinya memasuki ruangan tersebut.
"Silahkan duduk."
***
Satu Minggu telah berlalu sejak wawancara itu dilakukan. Pengumuman yang lolos akan diberitahu esok hari. Tidak tau kenapa hatiku merasa gelisah. Meski aku bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh tim penguji. Ntah mengapa semua pertanyaan yang diberikan terasa ganjil bagiku.
Aku berjalan memasuki gedung menuju kelas dimana aku akan memulai kuliah pagi. Di tengah perjalanan kelas kulihat seseorang menatap tajam padaku. Dari wajahnya aku mengenali dirinya. Dia adalah David Lee siswa terpandai di angkatanku. Sejak pertemuan kami seminggu yang lalu. Dia selalu memandangiku dengan penuh sejuta pertanyaan. Namun anehnya, tak sepatah kata dia ucapkan saat wajah kami saling berhadapan. (Aluna menatap sejenak lalu memalingkan pandangannya kembali menuju ruang kelas tujuannya dengan beberapa unek-unek dihatinya).
"Arghh, rasanya pengen aku tonjok aja itu muka!" ungkap Aluna kesal melihat wajah David yang tampak senga itu.
Berdasarkan referensi yang aku baca. Dia berasal dari keluarga kaya bangsawan Vincent. Dia juga masuk urutan tiga besar siswa yang kemungkinan besar akan memasuki Oxford university. Bahkan nilai ujian SMA saja 100 semua. Ahh manusia apa bukan sih dia?. Ntah mengapa aku rasa dunia ini tidak adil.
Vincent David Lee, dia kaya, dari keluarga terpandang, tampan dan juga pintar. Hanya saja, aku tak terlalu suka dengan sikapnya itu. Bahkan sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu? Why?.
•••
Pengumuman hasil seleksi akhirnya keluar. Tiga mahasiswa dinyatakan lolos dan dapat berpartisipasi dalam Ekspedisi Greenly. Tiga mahasiswa tersebut diantaranya adalah:
1. Vincent David Lee
2. Shin Jong Ebert
3. Maria Aluna Mark Hoppes
Ketiga mahasiswa tersebut mendapatkan dispensasi dari kampus untuk melakukan pelatihan sebelum keberangkatan. Mereka mendapatkan pelatihan di London bersama ke empat universitas lainnya.
Mulai saat itu, Aluna menjadi salah satu mahasiswa yang di perhitungkan di Well university. Dia bahkan dipindahkan ke kelas A saat itu juga. Namun tak pernah dia bayangkan apa yang akan terjadi saat ekspedisi nanti di hutan Well.
Yang dia tau sekarang hanya, dia tak perlu lagi menghawatirkan biaya kuliahnya nanti. Dan inilah awal perjalanan Aluna sebagai seorang mahasiswa sains di Well university.
***
FREE LIRIK LAGU I tried to hide but something brokel I tried to sing, couldn't hit the notes The words kept catching in my throat I...